Laman

Jumat, 17 Februari 2012

Mereka berkarya dengan caranya

Aku selalu yakin bahwa dimanapun kita dan apapun yang kita lakukan setiap detiknya adalah sebuah proses pembelajaran. Tuhan punya cara sendiri untuk ngajarin masing-masing dari kita tentang hidup ini. Kadang Dia akan pake cara yang menurut versi kita terasa kejam atau bahkan sebaliknya Dia akan ngajarin kita dari hal-hal sepele yang ada di sekitar kita. Dan apapun itu sebenernya itu cuma cara Dia ngedidik kita bahwa belajar itu bisa kita dapet dengan berbagai cara. Tujuh minggu aku ngabisin stase komunitas di desa sokawera, desa yang mayoritas penduduknya bermata pencaharian sebagai petani. Yang menarik dari tempat ini adalah tentang dinamika yang aku dapet dari remaja-remaja desanya. Aku jatuh cinta dengan tasada ‘taruna satria muda’,
itu nama karang taruna di desa ini yang kebetulan saat kita dateng, tasada baru aja kebentuk. Pertama kali aku dapet kesempatan ketemuan ma tasada itu pas penyuluhan tentang narkotika dan seks bebas. Dan selesai acara kita disuguhin ama rebanaan ma remaja cewenya. Sigh... meleleh banget pas mereka ngebawain lagu ‘give thanks to Alloh’, yepp mereka jelas punya potensi. Untuk masalah vokal aku emang ga ngerti-ngerti banget, tapi buat aku musik it’s about something that make you hits. Dan jujur ngedengerin mereka ngebawain lagu give thank to alloh itu bikin aku ngerasa comfort banget, God who are they anyway?. Aku yang waktu itu emang ga terlalu ngerti ama liriknya mencoba untuk ngikutin irama tabuhan rebana dengan komat-kamit ga jelas dan pas jatuh di reffnya yang kebetulan emang familiar mendadak jadi teriak2 dengan nada yang makin ‘ga jelas’ hee... but who’s care, yang penting aku nyaman toh suara cemprengku bakal ketutup ma tabuhan rebananya yang super menggelegar (Rebana succsess  savie my voice. Blurp*). Rebana yang mereka tabuh bagi aku pribadi ngebawa semangat positif yang begitu kuat, entahlah rasa-rasanya ingin menjadi satu bagian dari mereka yang bisa menularkan semangat itu. Berawal dari rebana itulah, aku menjadi semakin tertarik dengan tasada. 

Mereka punya semangat perubahan, jarang aku dapati anak-anak seumuran mereka yang masih mau terlibat dengan kegiatan kemasyarakatan dan mereka melakukanya dengan penuh loyalitas dan totalitas. Terakhir yang aku denger mereka lagi giat-giatnya bikin sapu buat acara kerja bakti. Hand made! itu mereka buat dari tangan mereka sendiri! Sebagian besar dari kita mungkin akan berpikir cara instan untuk membelinya dengan dalih efisiensi waktu bla..bla..bla..tapi tidak dengan Tasada, mereka berpikir dan bersikap di luar kebiasaan orang, mereka berani menjadi minoritas. Pas acara parenting Expo, kita make tim rebana dari tasada buat acara hiburan. Yang bikin aku terharu adalah mereka begitu gembira pas denger berita itu dan mereka ga mau untuk dibayar untuk performnya mereka. Bagi mereka bisa tampil di lingkup desa udah jadi prestasi buat mereka, dari mereka aku belajar bahwa penghargaan karya seni itu ga selalu dinilai dari materi. Semoga mereka akan terus selalu menjadi pribadi mereka, pribadi yang rendah hati yang tidak diperbudak oleh materi, mereka yang berkaya dengan hati nurani. Dan masih terbingkai secara rapi memory ketika mereka meninggalkan acara parenting expo dengan mobil terbuka, mereka memainkan rebana mereka di atas mobil terbuka itu dengan senyum kebahagiaan. Heii.. rasa-rasanya aku ingin menari-nari di tengah kalian.

Tasada memberikan aku pelajaran bahwa bangsa ini punya masa depan. Banyak orang yang begitu pesimis dengan negeri ini, negeri yang dibayang-bayangi oleh teror bom, kerusuhan, teroris, koruptor, dan begitu banyak isu-isu busuk lainya. Namun dari Tasada aku berani untuk berkata lebih untuk Indonesia. Aku yakin masih banyak harapan untuk Indonesia di pelosok-pelosok negeri ini layaknya Tasada. Mereka yang terbiasa dengan kebenaran dan bukan membenarkan yang biasa. Seseorang pernah berkata padaku bahwa untuk merubah Indonesia setidaknya kita harus memusnahkan satu generasi. Dan kehadiran Tasada jelas bukan jawaban yang lantas bisa menggantikan satu generasi yang harus dimusnahkan. Tasada adalah sosok dimana mereka adalah generasi penentu dan bukan generasi penerus pendahulunya. Inilah jawaban dari pemusnahan satu generasi ‘itu’. Bahwa jika mereka masih bisa mempertahankan apa yang menjadi diri mereka saat ini tentang kesederhanaan, rendah hati, semangat berkarya tanpa diperbudak oleh materi, dan bekerja dengan keikhlasan maka bukan tidak mungkin generasi seperti inilah yang akan muncul di negeri ini. Aku bercermin dari tasada bahwa dulupun mungkin aku seperti mereka, aku belajar tentang benar dan salah yang dibatasi oleh garis-garis yang tegas. Saat kecil aku belajar bahwa berbohong itu dosa dan rasanya aku malu untuk mengakui saat ini betapa banyak kebohongan yang mungkin telah aku lakukan. Yaaa ga mau munafik akupun pernah mengalami fase-faase nakal dan mungkin sampai saat ini, ketika bohong menjadi hal yang biasa. Mengkambinghitamkan organisasi untuk kepentingan pribadi ‘bilangnya mau rapat padahal mau ngelayab’, hee (ini semacam jadi kaya pengakuan dosa yak =.=’). Ya.. semakin dewasa kita, kita akan bergesekan dengan ‘kepentingan-kepentingan’ yang tanpa kita sadari bisa membuat segala sesuatunya menjadi abu-abu ‘membenarkan yang biasa’. Dan itulah yang sudah mengakar kuat di generasi kita saat ini. Kita butuh agen of change dan itu sebenernya simple mulai dari diri sendiri. Tasada disini hanya contoh saja betapa sebenernya hidup itu indah jika nurani ada bersama kita. Dan masing-masing dari kita bisa kok berubah untuk itu, memusnahkan generasi pengecut dari diri kita menjadi generasi yang ‘berani’ membiasakan diri dengan kebenaran. Dan harapan Indonesia ada bersama itu, orang-orang yang optimis dengan negrinya, orang-orang yang berani membuat perubahan dan bukan hanya menuntut perubahan. Aku harap Tasada yang aku kenal saat ini akan terus menjadi seperti ini meskipun nantinya mungkin akan menjadikan mereka minoritas it’s ok, selama mereka memang berada pada jalur yang benar. Tasada yang terbiasa dengan kebenaran.

By the way saat akhir stase komunitas kita sempet ngadain pensi sama anak-anak tasada sebagai perpisahan. Aku ngelihat potensi nyanyi dari beberapa anak-anak tasada dan isengan aku bikin yaaa semacam video-video yang bercerita (ga berani buat ngomong bikin film, karena emang kayaknya masih jauh dari film. Lagi juga Cuma pake camdig. heuheu), ini video fungsinya buat ngerapihin aja biar yang nyanyi pas acara pensi ada alur ceritanya. Tapi kayaknya aku gatot deh, niatnya ini video ngebawain cerita sedih tapi entah kenapa pas video di puter malah jadi pada ketawa. Tapi ga papa, Life is about the people you meet and things you create with them dan dengan tasada aku lebih berani untuk berkarya. Dan cuma mereka yang berhasil ngebuat aku yang cinta mati ma fotografi berani selingkuh ma videografi. I Love you TASADA ‘always be yourself’




Tidak ada komentar:

Posting Komentar