Laman

Minggu, 16 Juni 2013

Adegan Imajiner



            
Sistem limbik seketika menggodaku untuk membayangkan tentang romantisme telaga menjer.  Aku pikir akan menarik jika suatu hari nanti aku pergi sarapan bersama suami diatas perahu-perahu yang memutari telaga menjer ini. sepotong roti, madu dan segelas teh di pagi hari, sounds good. Lalu kami duduk saling membelakangi dan kaki kami bermain dengan air telaga, menyentuhnya dengan lembut.

Ditelinga kiriku dan ditelinga kanannya terpasang headset dan kami mendengarkan lagu-lagu mocca, bersenandung lirih dan terlarut dalam lamunan kami masing-masing. Dipertengahan jalan kemudian aku akan berbalik badan dan berbisik lirih ditelinganya “would you like to dance with me?”.  Hahaha... wait, hmmm mungkin dia akan berpikir kalau aku tidak bisa menari “seberapa bagus kamu menari?”. Baiklah setidaknya aku tahu bagamana caranya mengetuk-ngetukan kaki mengikuti melodi. Kami berdiri dan kami menari bersama melodi. Diujung perahu pada salah satu bagian lainya dimana pengemudi  perahu menjalankan perahunya, Pengemudi perahu itu  terlihat heran dan hanya mampu melempar senyuman ke arah kami.  Kami bertatapan, sedikit malu tapi kemudian dia meyakinkanku ‘jangan pedulikan, hanya ada kita berdua didalam frame’.  Kami melanjutkan tarian kami, kali ini dengan ritme sedikit lebih cepat. Tap...tap...tap... kini playlist kami memainkan lagu happy, sebuah semangat untuk kami berdua. Namun ada bagian dimana langkah kaki kami tidak senada, pertanda buruk. Aku terjatuh dan begitupun dengan dia. Kami tergeletak di atas perahu, sakit namun tidak parah. Kami lantas berbaring dan memandangi langit biru dengan gumpalan awan-awan culumbus. Aku menggenggam tanganya, sedikit menghela nafas atas beberapa menit kekonyolan yang baru saja kami alami. “Apakah aku cukup pantas untuk menjadi partner dansamu kapten?” tanyaku penuh penasaran, aku memandang kearahnya. Kini aku mulai mencoba untuk menggambarkan wajahanya, tapi gagal. Dia yang belum sempat aku gambarkan wajahnya tidak berkata sepatah katapun dan kemudian menghilang. Limbikku tertampar. Hahahaa, ini hanya sebuah adegan imajiner. Baiklah setidaknya mampu menjadi bahan hiburan untuk kerja otakku yang belakangan disibukan dengan kebisingan tentang masa lalu and it's work. Untuk seseorang yang belum sempat aku gambarkan wajahnya “aku suka cara kamu berdansa”. LOL.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar