Sistem limbik seketika
menggodaku untuk membayangkan tentang romantisme telaga menjer. Aku pikir akan menarik jika suatu hari nanti
aku pergi sarapan bersama suami diatas perahu-perahu yang memutari telaga
menjer ini. sepotong roti, madu dan segelas teh di pagi hari, sounds good. Lalu
kami duduk saling membelakangi dan kaki kami bermain dengan air telaga,
menyentuhnya dengan lembut.
Ditelinga kiriku dan ditelinga kanannya terpasang
headset dan kami mendengarkan lagu-lagu mocca, bersenandung lirih dan terlarut
dalam lamunan kami masing-masing. Dipertengahan jalan kemudian aku akan
berbalik badan dan berbisik lirih ditelinganya “would you like to dance with
me?”. Hahaha... wait, hmmm mungkin dia
akan berpikir kalau aku tidak bisa menari “seberapa bagus kamu menari?”.
Baiklah setidaknya aku tahu bagamana caranya mengetuk-ngetukan kaki mengikuti
melodi. Kami berdiri dan kami menari bersama melodi. Diujung perahu pada salah
satu bagian lainya dimana pengemudi
perahu menjalankan perahunya, Pengemudi perahu itu terlihat heran dan hanya mampu melempar
senyuman ke arah kami. Kami bertatapan,
sedikit malu tapi kemudian dia meyakinkanku ‘jangan pedulikan, hanya ada kita
berdua didalam frame’. Kami melanjutkan
tarian kami, kali ini dengan ritme sedikit lebih cepat. Tap...tap...tap... kini playlist kami memainkan lagu
happy, sebuah semangat untuk kami berdua. Namun ada bagian dimana langkah kaki
kami tidak senada, pertanda buruk. Aku terjatuh dan begitupun dengan dia. Kami
tergeletak di atas perahu, sakit namun tidak parah. Kami lantas berbaring dan
memandangi langit biru dengan gumpalan awan-awan culumbus. Aku menggenggam
tanganya, sedikit menghela nafas atas beberapa menit kekonyolan yang baru saja
kami alami. “Apakah aku cukup pantas untuk menjadi partner dansamu kapten?”
tanyaku penuh penasaran, aku memandang kearahnya. Kini aku mulai mencoba untuk
menggambarkan wajahanya, tapi gagal. Dia yang belum sempat aku gambarkan
wajahnya tidak berkata sepatah katapun dan kemudian menghilang. Limbikku
tertampar. Hahahaa, ini hanya sebuah adegan imajiner. Baiklah setidaknya mampu
menjadi bahan hiburan untuk kerja otakku yang belakangan disibukan dengan kebisingan tentang masa lalu and it's work. Untuk seseorang yang
belum sempat aku gambarkan wajahnya “aku suka cara kamu berdansa”. LOL.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar